Tuesday, November 7, 2017

Ugly Past Pretty Future

I know I'm not the only person on earth who doesn't fancy a visit to the doctor. No matter how healthy you feel, a doctor appointment is never exciting unless you are expecting a baby maybe. A few months ago I underwent a surgery to remove my cyst. I have been seeing my doctor for routine check up ever since. And each time we talk about my recovery, I have to be reminded of what was inside of my body that could have grown worse and worse and each time we discuss that, I get to see a glimpse of what the cyst looked like from my doctor's files whether intentionally or by accident. I only see a glimpse because I refuse to look at it closely. And when I do look at it closely, it is usually because it is shown to me (as if I want to check it out again! LOL).. 

To be honest, it isn't a nice sight. I get sick to the stomach just looking at it. A hideous kind of blob, almost like an alien or one of strange substances in David Lynch's bizarre psychedelic movies. I'm glad it is out of my body now but I would rather not see it time and time again. It is good for a reminder to me of what I've been through and how God has been faithful in that journey; of how gracious He is for keeping me strong and steady while waiting for the healing He provides through those who prayed for me, through doctor and hospital treatment and everything that surrounded me. In this case, that ugly alien-looking worthless organ is a constant reminder of where I was and where I am now and I am so grateful I do not want to go back! I am moving ahead. I refuse any ties with it anymore! I am a new person :) the old has gone the new has come!

I remember reading the Scripture and find that God actually cannot stand looking at sin. Habakkuk the prophet says that His eyes are to pure to look on evil. He cannot tolerate it. I wonder how much uglier sin will look like under God's microscopic lens compared to the hideous cyst that I refuse to look at. It must be so ugly. It's probably the ugliest sight in the universe. If it separates us so far from God, if it causes Him to look away... it must be so unpleasant to see. When Jesus was crucified, God had to look away. The one who had no sin had been made sin for us so that we didn't have to bear the punishment of sin. So that in Him, we receive His righteousness.

Friends... you and me used to wear that ugly looking blob, unpleasant in our walk with the Creator. If God is so perfect, then all of us have fallen short of His standard. No matter how big or small our sin may seem, every one of us has missed the mark. Some of you may have $1000 and some others have only $10 but we are all broke and none of us can free ourselves from this debt unless the Master himself grants us remission. And this is exactly what He did! Through Christ He cancelled our certificate of debt, took it out of the way and nailed it to the cross. What we owed to God has been paid in full! Now when He sees us He sees His Son's perfection in us. It's like putting on a new robe that contains the purity of Christ. Our imperfection has been covered by someone else's righteousness. Therefore we can now come to God with confidence, knowing we are in the right standing with Him. 

But with this robe of salvation comes the obligation to walk accordingly. If you put on a ball gown you don't go swimming in it. If you wear a swimsuit you don't go to a business meeting in it. Our walk adjusts to whatever garment we wear. So walk accordingly :) I also don't look at my cyst and keep feeling sorry for myself for something that has happened in the past. Instead I choose joy for where I am now without it and where I am headed in the future (healthier, wiser me ^^) and I know I am not a victim. I am a survivor and I don't use my past circumstance as an excuse to not live life to the fullest because you know what, Christ only died once and we will live with Him for all eternity. Isn't that amazing?!

Love,
Sudi Smeeth

Wednesday, June 21, 2017

Jalan Yang Sama, Orang Yang Berbeda


Sore itu, kami memastikan kondisi rumah mertuaku. Empat ekor ayam betina mereka perlu dimasukkan kandang dan lain sebagainya. Edde memutuskan bahwa sore itu baik bagi dia untuk mencuci bersih mobil (akhirnya! haha..) dan kesempatan itu aku pakai untuk jogging.

Di sela perjalanan, aku menyadari betapa rindunya aku akan lingkungan sekitar rumah mertuaku, setelah delapan bulan menumpang bersama mereka sebelum kami pindah ke istana mungil kami di dekat pantai. Walaupun cuma ngontrak, setidaknya kami sudah mandiri ;)
Langkah demi langkah kuperhatikan, tidak ada yang berubah dari pemukiman sekitar situ. Namun tetap saja, ada sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang menggelitik sanubariku (cieee..) Sesuatu itu adalah reaksiku terhadap segala hal di sepanjang jalan. Dulu pas masih tinggal di situ, aku terkadang gugup, takut-takut, dan tidak yakin akan apa yang ada di ujung jalan. Sekarang, aku berjalan dengan tegap dan pasti, karena sudah berpengalaman. Diam-diam aku berkhayal bahwa hidup mungkin akan teramat sangat mudah bila yang menjalani situasi kita sekarang ini adalah diri kita yang ada di masa depan. Yang tahu ada berapa tikungan di depan sana sebelum kita berpapasan dengan jembatan di atas danau. Yang tahu bahwa tidak ada yang perlu ditakuti, sebab dua meter lagi, akan ada jalan setapak yang memandu langkah kita. Yang dengan ketenangan mengambil keputusan tanpa bereaksi dengan lebay. Dan alay.

Jogging sore itu mengingatkan aku akan masa lalu. Masa yang kadang aku rindukan, tetapi tidak ingin lagi tinggal di dalamnya. Masa yang selalu bisa kita datangi dengan tujuan mengucap syukur kepada Tuhan, bukan untuk disesali. Masa yang selalu ada di sana bila kita menoleh ke belakang untuk melihat seberapa jauh kita sudah maju. Seberapa dewasa kita sudah bertambah. Seberapa bijak kita sudah menjadi. Seberapa kuat dan seberapa tenang kita di masa kini, oleh karena masa lalu yang pernah melatih kita untuk menjadi siapa diri kita saat ini.

YOU CAN WALK THE SAME PLACE YOU WERE BEFORE BUT AS A DIFFERENT PERSON.

Sedihnya, aku mengenal beberapa orang yang senang tinggal di masa lalu. Mereka tidak pernah terbang melampaui kungkungan cerita kuno mereka. Mereka kembali dan kembali ke jalan setapak yang sama, masih dengan mentalitas yang usang, lagi dan lagi... Dan somehow, mereka seolah tidak merasa bosan. Berpindah dari satu relasi ke relasi selanjutnya, masih dengan cara berpikir hari kemarin, ketika hubungan mereka pecah berantakan di atas lantai. Dan sekalipun Tuhan berkata tidak, mereka mengambil keputusan "ya" berkali-kali. Terus dan terus... heran mengapa seolah mereka berjalan di tempat, sementara kawan-kawan seperjuangannya sudah jauh di depan, menantikan reward-nya masing-masing.

What an irony.

Tuesday, June 20, 2017

Denpasar, Satu Dekade Yang Lalu

Lampu jalan tidak berubah merah, namun tetap saja aku berhenti perlahan. Ada pejalan kaki yang perlu diberikan hak untuk menyeberang di hadapan kami, lautan pengemudi. Di bawah terik mentari, di tengah keramaian, masih saja pikiran ini melayang ke awang-awang. Ada gundah di hati ini. Barangkali sudah saatnya aku mulai mandiri. Bila keputusan hidupku menuntut lepasnya kebergantungan pada keluarga, maka tenanglah hai jiwaku.. Jadilah berani, dan hadapi musik di atas panggung yang kini memanggilmu untuk menari...

Di sela perdebatanku dengan diri sendiri, ada sekelebat bayangan yang menarik perhatianku. Seorang ayah memikul galon air di bahunya. Tangannya yang bebas memegang tangan kecil di sampingnya. Seorang bocah. Berdua mereka menyeberang jalan. Ayah yang kuat dan yakin dengan langkahnya, dan seorang anak yang menggenggam tangannya tanpa memikirkan dunia. Aku tahu ini sebab anak itu, bukannya berjalan dengan gugup, menantang arus lalu lintas yang padat, tapi justru melompat-lompat kecil di depan kami. Ia tidak sekedar melintasi hiruk-pikuk dunia, tetapi juga menjalaninya dengan sukacita. Dan aku tahu darimana sukacita itu mengalir..  Tentu saja, dari kehadiran ayah yang memegang tangannya.


Bukan anak itu yang perlu cemas apakah ini waktu yang tepat untuk menyeberang jalan. Bukan anak itu yang harus memutar otak untuk tahu apakah keadaan baik-baik saja. Bukan juga tugas anak itu untuk menjadi takut dan tidak percaya diri. Semua kesusahan dunia ia percayakan pada ayah di sebelahnya. Tugas anak itu hanya satu: memegang tangan si ayah. Dan oleh sebab itu, ia sanggup melintasi jalan dengan penghiburan. 
Ketika mereka berdua sudah sampai di seberang tanpa kekurangan suatu apapun, berangsur-angsur kendaraan melaju kembali. Sambil memacu gas, tak terasa air mata ini menetes. Bapaku baru saja berbisik dengan lembut ke dalam hati ini. "Jadilah seperti anak itu.. I'm walking beside you and I've got your hand." :)

Sunday, February 12, 2017

A Name on A White Pebble Stone

I had a joyful time at our Church's Vision Sunday Service yesterday. One of the things Ps Ian talked about was us as a believer given A NEW NAME and this correlates to 'self brand'. I think this is pretty cool. As I was getting ready for bed last night, my mind started wandering the verse I read in Revelations that says: "And I will give to each one a white stone, and on the stone will be engraved a new name that no one understands except the one who receives it." (Rev 2 17)

I love the book of Revelations. I know some parts can be pretty scary exposition of what is to come towards the end of days. But this book also contains beautiful descriptions of the new life when everything is made perfect again. Even if they were just metaphors of the actual things, my ears and my heart just love reading and listening to this final part of the Bible. It's like watching a trailer of a fairytale movie where you find wonderful magical things in it and it warms your heart. Knowing that the end is not just a 'happily ever after' but also full of important little details we don't want to miss!

When I read this beautiful verse in Revelations chapter 2, I envisioned pretty little pebbles that are white in colour, stored for each person entering the gate of Heaven. Each one with a name engraved on it; a name that is only known by the receiver. Isn't this wonderful?

When Edde and I got married, instead of buying a conventional guest book for our guests, I decided to get a jar of pebbles, I bleached all the pebbles white and I put black sharpies next to the jar for people to write their names on one side and messages on the other side of the pebbles. I still keep that jar until today. I know everytime I look at it the memory of our wedding ceremony and reception will forever preserved with the sight of each person's name on the pebble. Those who celebrated with us. Those who shared our joy on that special night. 

I went back to the verse... I wondered, why white pebbles? Why would God choose not to get a conventional guest book either? As in my case, my decision was for the esthetic and creative purpose mainly. But I wonder if white pebbles meant a lot more than that to God.. so like most of you when faced with practical questions, I went to our good old Google search engine for an answer. There's a lot of theories I found there but there is one that captured my heart. Some say that the white pebbles are metaphor for diamonds, some say they were the opposite of black stones used in taking a poll in the ancient history. But here is one simple explanation (I haven't been to Heaven yet, so I'm not sure which one is the most accurate but let's learn together).

In the old days, the ancient Romans awarded their athletes who won a contest with white stones. On these stones inscribed the name of the athlete, which then would be used as their "ticket" to enter a special banquet (like awards dinner). This makes sense because notice that the first part of the verse says, "To everyone who is victorious..." these white stones with our secret names on it were promised to every conquerer, overcomer, victor of the great spiritual battle in our walk with God. Those who prevail are given an access to the eternal celebration in Heaven. In other words, the white pebbles are our entry tickets.

Now, NOT every name I found in my jar of white pebbles is the same name I had on my guest list. Some of them were uninvited! But that's okay. Some of the names I expected to be there did not actually turn up so there were enough seats for everyone. My point is, once their name was on the pebble, that person would get the privilege of enjoying the wedding banquet - invited or uninvited. What a connection to what was going to come when we celebrate the union of Christ and His Bride! It is a wedding feast my friend! The party was going to be wonderful and once again we will all be united with the Lover of our soul, just like it used to be in the garden of Eden..

Alright, that is pretty cool, but what about our secret names? Why is it unknown except to us who receives it and of course to God who gives it? Again, there are many interpretations on this unique description in the Bible. Some refer it to the Holy Spirit's work of conforming believers to the holiness of Christ, some resemble it to the fact that we have been adopted into the family of God. I haven't been to Heaven, so again, I cannot be very sure of the meaning behind this secret name. All I know is that God keeps His promises. But here is my perspective..

Have you got a bestfriend? Do you call each other names only you two can understand? I do. It started with my bestie calling me 'piglet' (instead of babe) and since then this nickname became a sign of our love to each other. I bought her a bracelet with a piglet charm and before I finalised my purchase, the lovely shop attendant looked at me with furrowed brows and asked, "Are you sure? She won't get offended will she?" and we both laughed. I explained to the lovely lady that 'piglet' is our intimate name for each other. A nickname only us can understand without accidentally misinterpret it.

A nickname. An intimate way to call each other. Imagine what cute nickname God has in mind for you and me... A new name only you yourself can catch the meaning. A familiar utterance shared just between you and God in the secret place. To me, this new name implies a deep closeness with the One who gives name. I can imagine being handed the white pebble at the gate of Heaven and as I take a look at what it reads, my lips slowly curl into a smile and then a soft laugh and then a forever joy as I run towards the wedding banquet, running and giggling! Into the open arms of the Father.. Knowing that I am known, so known.. 

Check this verse written by Paul the Apostle to the church in Corinth:

Now we see things imperfectly, like puzzling reflections in a mirror, but then we will see everything with perfect clarity. All that I know now is partial and incomplete, but then I will know everything completely, just as God now knows me completely.

Isn't it wonderful?

Sudi

Monday, November 7, 2016

You are Adding Value to Others

Today I was reminded that what we do isn't just a job - that we are adding value to people's lives; that we are not just going through the motion. Too many times I have davalued the privilege the Lord has given to serve Him even in the smallest ways; not realising that each day I wake up, He has a purpose for me. 

I may not be able to physically go to the unreached like I used to in the past, but even here in our small set-up studio, my voice can still reach to thousands of hungry hearts somewhere in Indonesia that are looking for more in life - just by helping someone communicate their messages, as Aaron to Moses. Oh, so many times I have belittled this opportunity, to the point that somebody had to say to me, "Remember Sudi, that this is also a ministry," so I would take it more seriously!
😁
We are all so much more blessed than we give ourselves credit for. We need to learn to be more appreciative and grateful. You know what, gratitude can turn chaos to order, and confusion to clarity. It can turn a mean into a feast, a house into a home, a stranger into a friend. Gratitude makes sense of our past, brings peace for today, and creates a vision for tomorrow. The things we take for granted are the things others are praying for. We just need to continuously remind ourselves where we'd be without them.
🌻

Thursday, November 3, 2016

Jauh atau Dekat

Atasan suami saya di tempat kerja dikenal tidak mudah bergaul dengan orang lain. Pikirannya yang selalu terorientasi pada bisnis dan pekerjaan membuatnya tidak selalu menomersatukan hubungan. Baginya, menyelesaikan tugas adalah prioritas. Jadi, waktu dia berkomentar soal teman Gereja kami yang datang memperbaiki listrik di kantornya (dia mengucapkan ini setelah teman kami pergi), "Mustahil untuk tidak menyukai orang itu," kami semua tertawa mendengarnya.

Pertama, karena teman kami ini memang tipikal anak Gereja. Rajin ibadah, rajin pelayanan, suka nyelipin kotbah banyak-banyak dalam obrolan ringan hehe, dan tentunya baik hati. Saya kurang tahu sih kalau dia rajin nabung atau enggak hahah.. Anyway, yang kedua, karena teman kami ini memang biasa kami 'bully' kecil-kecilan kalau pas lagi hangout bareng. Jadi, mendengar dia menerima komentar yang sangat membanggakan itu, hati kami langsung bersukacita, saking sukanya, kami sampai terbahak-bahak. Misalnya nih, waktu iring-iringan naik skuter di Bali, dia pasti ada di urutan paling belakang, dan bisa dipastikan dia akan terhilang dari kawanan dan nyasar entah di mana. Lalu kalau ada pengkotbah yang mendadak nggak bisa dateng di last minute, tarik aja dia suruh kotbah, pasti mau. Bahan omongan rohaninya banyak banget, walaupun gak jelas point-nya satu per satu. Dan segudang behavior lainnya yang unik dan membuat geli setiap kali dikenang. Tapi teman saya ini adalah sebuah kesaksian mengenai orang Kristen yang luar biasa. Kalau masih ada sisa kertas di catatan harian rasul Paulus di penjara, saya yakin teman saya ini juga bakal disebutin sebagai salah satu pengikut Kristus yang setia, ciee.. ciee..

Okay, seorang yang nggak percaya Tuhan yang bertemu sama orang Kristen dan komentarnya adalah 'Mustahil untuk tidak menyukai orang ini..' is a big deal right? It's a picture of a person who walks the talk. Saya pernah mendengar istilah bahwa bedanya iman sama kepercayaan adalah: Iman = Kepercayaan yang ada kakinya. Iman adalah sebuah kepercayaan yang dijalani setiap hari. Iman adalah kata kerja. Mengenal seorang Kristen seharusnya membuat orang yang tidak percaya pada Tuhan berkata, "Saya menyukai orang ini."

Ingat tidak sama bacaan di Kisah Para Rasul 2 ayat 46-47?

Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.

Bukankah sebuah hal yang natural bila orang Kristen mudah disukai oleh orang di luar jemaat? Sudahkah ini terjadi di sekitar anda? Saya tidak berbicara mengenai berusaha menyenangkan semua orang. Ini sih tanda insecurity, tetapi sebisa mungkin hidup di dalam perdamaian, if it's up to you.

Roma 12: 17-18:

Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang!
Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang! 

Susah memang, tapi sedapat-dapatnya diusahakanlah..

Ngomong-ngomong itu barus satu poin saja. Ada juga nih, temen saya Kristen. Berkarisma banget. Pintar bicara dan wajahnya enak dilihat. Penampilannya selalu rapi. Imannya dewasa. Dilihat dari jarak mimbar dengan kursi jemaat, dia ini 5 garis di bawah sempurna. Lalu suatu hari kami papasan dengannya di mall. Pikiran saya waktu itu, "Oh ternyata dari jarak segini, dia nggak cakep-cakep amat, hahaha.. Dan agak pemalu." Tapi dia memang luar biasa, sangat menginspirasi.

Pernah nggak lihat foto temen di Instagram atau Facebook, duh harusnya nih mereka jadi artis aja. Tapi begitu duduk sebelahan, kelihatan deh pori-pori kulitnya, komedonya, noda jerawat, atau kantung matanya. Atau sebaliknya nih, mereka sama sekali nggak fotogenik atau jauhjenik atau remangjenik atau apalah, tapi semakin lama menghabiskan waktu sama mereka, eh.. koq lama-lama mereka cantik yah atau ganteng yah. Oh... ternyata yang cakep hatinya hehe! Kata Tuhan, jangan menilai manusia dari penampilan, soalnya Dia paling tahu tuh segala isi hati manusia sampai yang paling tersembunyi sekalipun.

Tapi itu manusia... Mengenal atau memandang mereka lebih dekat, kemungkinannya ada dua: kita semakin menyukai mereka (seperti apa yang terjadi pada atasan suami saya terhadap teman kami) atau kita jadinya kurang suka - mungkin karena mereka tidak menjalani apa yang mereka katakan atau tidak secantik di dunia maya atau alasan konyol lainnya. Tapi bagaimana dengan Tuhan?

Oh, it's impossible not to like Him at all setelah menghabiskan waktu denganNya lewat bacaan Alkitab atau ikut penyembahan. Tidak seperti manusia, adalah mustahil untuk like Him less than we ever did before, kecuali kalau kita menghentikan komunikasi. Burn the bridge, or just throw our relationship into the bin. Menolak untuk mengenal lebih dalam. Menolak duduk lebih dekat. Menolak mendengarkan isi hatiNya. Tuhan bukan pribadi yang setelah dipandang lekat-lekat dengan jarak setengah meter, kelihatan semua cacatnya, nope... In fact, saking sempurnanya, Dia tidak punya cacat dan cela. Tidak berkata atau berbuat salah. Kalau ada yang berpikir sebaliknya, dia pasti jarang piknik atau ngopi-ngopi.

Nah, selamat mengenal Dia lebih dalam lagi! ;)

Thursday, April 21, 2016

Hidup Kekinian atau Hidup di Masa Kini?


Percakapan dengan seorang teman hari ini mengingatkan saya betapa pentingnya untuk selalu bersukacita. Sukacita tidak datang dengan sendirinya, tetapi diusahakan.

Sambil memperhatikan anak bungsunya bermain di taman, kami duduk di bangku dan bertukar cerita. Tidak ada sesuatu yang istimewa tentang teman saya yang membuat kita menoleh dua kali ketika melihatnya. Penampilannya biasa saja. Tidak mengikuti trend busana terkini, gaya rambut paling hype, bahkan tanpa polesan make up di wajahnya. Senyumnya adalah satu-satunya riasan wajah yang membuatnya menarik, jauh lebih menarik dari wanita "kekinian".

Yang membuat saya terkesan adalah betapa "tidak kekurangan" dia with life in general. Kehidupan ibu rumah tangga yang bagi kebanyakan dari kita adalah rutinitas yang membosankan, tapi tidak buat dia. Dalam setiap komentarnya, selalu ada sesuatu yang membuat dia bahagia, sekalipun itu hal yang sangat sepele. Salah satunya adalah mengikuti perkumpulan seni yang sudah dua kali dia datangi, di mana semua orang bebas mengekspresikan bakatnya dalam bentuk apa saja. Kehidupan religinyapun tidak jauh dari normal. Pergi ibadah paling tidak sekali seminggu. Melihat fluktuasi jumlah jemaat yang tidak stabil, tapi masih memutuskan untuk tinggal. Seolah tidak ada hal yang dia tuntut dari hidup ini. Dari Tuhan..

Ada beberapa teman di lingkungan pergaulan kami yang cukup berduit, sering pergi travelling, bisa membeli mobil dan rumah kapan saja dia mau, tapi masih mengandalkan obat penenang supaya tidak terlalu larut dalam ketidakbahagiaan. Sungguh sebuah paradoks. Di tengah obrolan kami, saya merasa dipukul telak. Ada begitu banyak hal kecil yang belum sempat saya syukuri dalam hidup ini. Yang berlalu setiap hari dan lewat begitu saja bagaikan butiran debu (kalau kata RUMOR) di tengah tiupan angin, sementara teman saya memuaskan diri dengan secukupnya yang dia miliki tanpa merasa harus mengikuti patron "kekinian". 

Keluarga. Teman. Ibadah. Hobby. Dia hidup di masa kini, bukan di masa lampau sehingga harus menyesal, ataupun di masa depan yang belum tentu ke mana juntrungannya sehingga dia perlu khawatir. Tanpa memaksakan kehendak pada orang lain ataupun Tuhannya. Tanpa menuntut banyak, hanya setia pada apa yang sudah dipercayakan kepadanya untuk saat ini.

Sebuah seni menjalani hidup yang perlu kita tempuh di sekolah kehidupan sepanjang usia kita.

xx

Sunday, April 17, 2016

Something to Put On Through The Inevitable Change of Season



When the season changes, it will be up to us to adjust to the environment. The sun will not wait until you are ready and the wind will not stop blowing just because you're whinging. In the survival game against nature, winning is adapting.
I like seasons.. when different things emerge that make life very exciting to live. I can take transitions from one season to another well enough to keep myself encouraged. But as soon as the real deal comes and the reality bites, it's a whole different story.

Our clothes either will be too thin or too thick. And we need a different pair of shoes. Seasons don't change you but they do transform your attitude - towards everything. You can still look back to what's behind you. To the land full of milk and honey and delicious fruits. To where the sun shines the whole year. To the comforts of home. But you know you've just gotta suck it up and keep on taking steps forward. And put on new garments throughout every season.
Imagine if we just have one suit that will fit all kinds of season. It grows lighter in summer and warmer in winter. It gives you a cool breeze in spring and wrap around your neck gently in autumn and it does this automatically. Imagine if this suit exists.. I think it does! This suit is called "putting on Christ"

But put on our Lord Yeshua The Messiah and do not be concerned for the desires of your flesh. (Romans 13: 14 Aramaic Bible in Plain English version)

Notice how God's people - when travelling through the seasons in the wilderness for 40 years, their clothes and shoes did not wear out.

Yet the LORD says, "During the forty years that I led you through the wilderness, your clothes did not wear out, nor did the sandals on your feet. (deuteronomy 29: 5)

When we put on Christ, it's like brought under the shelter of His wings. It's like being hidden in IRON MAN suit. The world may go hotter and colder and shaky and crumbling, withered.. and burnt to ashes but you will be safe and whole.

For you died, and your life is now hidden with Christ in God. (Colossians 3: 3)

Inevitably the season will change and it's your call to chose a wise outfit as a faithful believer ;) choose Christ and let His peace rule in your heart. X

Saturday, April 16, 2016

To "cabut" or Not To "cabut" That Is The Question

Berkebun itu menyenangkan.

Saya lahir di desa Kedisan, Kintamani. Walaupun besar di kota Denpasar, saya sering bolak-balik ke kampung selama musim liburan sekolah (di luar kegiatan adat) dulu. Salah satu tempat maen favorit saya adalah ladang milik Bapak yang teduh dan tenang. Saya suka lahan hijau dan pepohonan. Melihat tanaman tumbuh, mengeluarkan buah dan nantinya bisa kita nikmati adalah kebahagiaan kecil yang membuat hidup ini berarti hahaha..

Di rumah mertua saya di Central Coast kini juga banyak lahan kosong penuh pepohonan. Karena iseng, salah satu petak tanahnya yang nganggur saya tanami dengan biji bunga. Kebetulan di sini gampang banget beli biji tanaman di swalayan-swalayan dengan harga terjangkau. Setelah tanah kami siangi, bibit disebar, disirami, diberi pagar dan ditunggu kemunculannya, maka petualanganpun dimulai.

Saya perhatikan, dibanding bibit yang kami tanam, gulma justru lebih cepat tumbuh. Sehat dan radipdly grow! Ga perlu usaha deh buat melihara rumput-rumput liar. Kayak udah default gitu sistemnya. Di mana ada tanah sama air, mesti ada gulma. Terkadang down juga, tunas taneman yang diharapkan..ga nongol-nongol. Tapi kami tetep rajin tiap hari ke kebun. Nengokin, nyiramin, nyemangatin itu taneman biar selekas mungkin berakar dan nyembulin daun. Ada mitos kalau taneman diajak bicara atau dikasih kata-kata positif gitu, mereka cenderung tumbuh sehat. Bener atau enggaknya, tanya sama orang Jepang deh! Kenapa orang Jepang? Hehe random aja sih..

Beberapa hari kami mulai cabuti rumput liar, tapi lama-lama kami ragu. Yang ini rumput liar apa tunas taneman sih? Susah ngebedaiinnya kalau masih sama-sama kecil dan imut. Entar salah-salah taneman sendiri yang kecabut! Yaudah kami sepakat ngebiarin mereka sama-sama tumbuh dulu. Ntar pas gede pasti keliatan kan mana lalang mana gandum. Berkebun selain menyenangkan, juga buat pembelajaran.

Pernah gemes ga ngeliat sesuatu yang buruk tapi masih aja wara-wiri di depan kita. Contohnya berita-berita hoax dan tulisan-tulisan provokatif di medsos. Uda keliatan jeleknya. Uda jelas-jelas cuma gulma, tapi masih aja dibiarin idup, ga ada yang nyabut. Atau sebuah organisasi misalnya. Udah kehilangan integritas dan ga sehat buat "taneman" di dekatnya, tapi masih aja ada di kebun tuh. Tuan yang empunya lahan bilang gini: "Eh biarin aja. Biar sama-sama tumbuh. Ntar kalau keduanya udah gede, udah bisa dibedain, baru kita cabut. Soalnya kalau dicabut sekarang, kasihan itu gandum ntar ikut kecabut juga. Rugi bandar donk!"

Di petak tanah yang mungil yang saya garap, ada banyak kehidupan. Di lahan yang sama di mana gulma itu tumbuh, sebuah tunas sedang berjuang untuk berdiri di atas permukaan tanah. Di garden bed yang sama di mana gulma mencari makan, sebuah tunas dari tanaman yang baikpun menerima nutrisinya. Sejelek-jeleknya kebun itu terlihat, ga sedikit tanaman yang baik berkembang di dalamnya.

Yaudah tunggu musim panen aja ya!
Sambil nunggu, yuk tetep rajin berkebun :)


Friday, April 15, 2016

Jakarta BaRu!

We used to dream about a godly leader who would be the salt and light for our nation. Every Sunday as a church we pray for our government. Now God in His marvelous wisdom has made a way as an answer to this, things don't automatically just run smoothly. Wherever His values are established there will be controversy. It separates families, human race, it divides a nation into what so-called lovers and haters. And whatever can be shaken will be shaken. Old paradigm, worn out system, political structure, people's trust. With greater blessings come greater challenges. Beloved people of God (of Indonesia), run your race as this godly man runs his. In thanksgiving and praise bring all petition to God anytime without ceasing for His wisdom, protection, annointing, for health, for joy and peace upon this man. I believe that many will see the Lord through his leadership. That in each victory he gains, all eyes will see the Mighty One himself has got his back. And that they are dearly loved. For this reason that He has given ‪#‎ahokforjakartabaru‬
Salam!

Telepati ;)

Salah satu hal terbaik dlm pernikahan (selaen kmn" sll ada temennya) adl anugerah utk bs bertukar pikiran dg partner yg sepadan. Itu sebabnya bersabarlah saat memilah-milah sblm menentukan pilihan. Partner yg enak diajak diskusi itu yg wawasannya minimal sama luas, value atau nilai" hidupnya diambil dari iman yg sama, dan bisa menghargai perbedaan pendapat asal tujuan ttp dijalankan bersama. Kalau proses diskusi lancar, insya Allah pengambilan keputusan ga akan complicated kayak drama turki, bahkan dg sedikit kode aja masing" langsung paham maksud dan ikhtiar yg lainnya.
Beberapa wkt lalu pas ngobrol sama dua pasangan tmn gereja soal keputusan mrk, rata" ada beda pendapat yg akhirnya dibentuk jd satu keputusan bersama yg bulat dan disepakati. Rumah tangga yg sehat..
Ketika kemudian mrk balik bertanya soal keputusan kami, mendadak kaget sedikit, soalnya baru ngeh qlo kami berdua ga pernah ngebahas soal itu secara eksklusif.. sama sekali. Alasannya bukan krn ga kompak, melainkan krn tanpa diskusipun km sdh tahu posisi masing". Secara ga sadar keputusan yg bulat dan mantap sdh diambil, sekalipun tdk ada kata yg terucap. Hanya kedipan mata, gestur dan landasan iman masing" xixixi..
Ternyata kompak tdk melulu lewat baju yg matching atau saling menandai postingan" mesra di facebook lol kekompakan jg melalui keputusan sehari-hari yg diambil yg mewakili suara masing", verbal or non verbal.
By the way wkt itu harusnya jwb gini:
"Oh qta udah dikusi dg cara telepati, jd keputusannya gini.."
Ini baru wow.
Tumbi Umbi, 15/4/16

Wednesday, April 13, 2016

Concealer VS Highlighter

Concealer dan Highlighter adalah dua alat yang sangat berguna dalam dunia make up. Yang satu melapisi bagian-bagian kulit kita yang warnanya tidak senada (contohnya pigmen gelap, noda jerawat, atau belang lainnya), sementara yang lainnya membuat warna yang gelap menjadi satu atau dua tingkat lebih terang di atas warna aslinya (contohnya lingkar gelap di bawah mata). 

Banyak yang selama ini keliru dengan memoleskan concealer tebal-tebal untuk mengatasi mata panda. Padahal, dengan highlighter saja, lingkar gelap itu tidak perlu lagi disembunyikan, melainkan dijadikan lingkar terang! Betapa banyaknya energi yang bisa anda simpan dengan cara ini dibandingkan dengan memoles concealer berulang-ulang dan mata anda masih terlihat kuyu. It's so frustrating!
Concealer dan Highlighter ini mengingatkan saya pada tulisan Rasul Paulus untuk jemaat Efesus. 

Beberapa waktu terakhir ini saya dan suami berbincang dengan orang-orang yang memiliki masalah yang sama. Lewat beberapa minggu dan bulan, keadaan tidak juga mengalami peningkatan dan didapatilah satu benang merah di antara orang-orang ini. Mereka semua terluka, tetapi belum sempat diobati. 

Banyak di antara kita yang, ketika melihat goresan atau luka, atau seperti mata panda yang kita bahas tadi, memutuskan untuk (kalau dalam istilah bahasa Inggrisnya) menyembunyikannya di bawah karpet. Sesuatu yang jelek atau 'ugly' itu tidak ingin kita perlihatkan pada orang banyak karena kita malu dan itu adalah penodaan atas karakter dan reputasi kita. Kita tidak ingin terlihat lemah. Kita ingin terlihat baik-baik saja dan pada akhirnya semuapun akan baik-baik saja. Kita mengambil concealer dan mengolesnya banyak-banyak dengan harapan cacat itu akan hilan sejalan dengan waktu. Yang terjadi kemudian justru kita terlihat capek, kurang tidur, dan berbeban berat. Ada yang salah. Semua orang tahu. Semua orang bisa menilai, tapi tak satupun membahasnya. Seperti sebuah rahasia umum yang pantang diperbincangkan. 

"Tetapi segala sesuatu yang sudah ditelanjangi oleh terang itu menjadi nampak, sebab semua yang nampak adalah terang. Itulah sebabnya dikatakan: "Bangunlah, hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan bercahaya atas kamu." 
Efesus 5: 13, 14

Jangan mengira ayat ini hanya berlaku bagi kasus di mana terang Tuhan dipergunakan untuk mengekspos dan mengadili perbuatan yang tidak baik. Terang ini justru ada untuk menyembuhkan. Banyak metode kesehatan pada jaman sekarang yang dikembangkan melalui penyinaran pada bagian tubuh yang sakit untuk membunuh sel-sel jahat. 

Seperti halnya highlighter, menerangi daerah yang gelap dalam diri kita justru jauh lebih berguna daripada menyembunyikannya. Sampai kapan? Berapa lama? Jangan tunggu Tuhan turun tangan dulu sebelum kita sendiri mengambil inisiatif. 

Setelah melihat keterbukaan atas masalah dijalankan, betapa saya merasakan atmosfer yang berbeda. Ini adalah awal dari kesembuhan. Sekalipun luka tidak serta merta diobati, minimal dengan mengetahui bahwa kita terluka, gerakan-gerakan akan diambil dengan lebih hati-hati. Kita akan lebih sadar akan keadaan diri, sehingga dapat meminimalisir cedera di kemudian hari. 

Dan lihatlah, dengan concealer di bawah mata, tidak ada yang menyangka bahwa beberapa malam terakhir, kita kurang tidur, hehehe.. BANGUNLAH DAN BANGKITLAH DAN TUHAN AKAN BERCAHAYA DI ATASMU!  

Tuesday, December 29, 2015

Are You the One or Am I Looking at the Wrong Man?


I have been diligently following two fan pages on Facebook; one that supports the government and one that constantly mocks it. The last mentioned has gone a few levels up from just criticising; they spread false information to turn people away from the new ruling President. 

I secretly admire the 'puppet' used by the government opposition to write super silly articles to fool people because he is so passionate about what he is doing, but every time he convinces people that he is not the kind of person he is (and even deceives himself about it too) I feel disgusted. It is better to be a villain and admit that you are a villain and do a villain job passionately than putting on a mask of an angel when you know you've got the devil's horns. What a shame. 

Whether you're an angel or a demon, you will still have followers anyway. This world is not flat and only two third of its population will want to follow the truth. The good news is: we who seek the light are far more in number than our adversary and at the end of the day the enemy will realise how lonely he is. Those surrounding him are only there because they fear him; they don't love. And when their own life is at stake, one by one they will leave him.

Our goal isn't how to slap the enemy back, how to get an eye for an eye.. Our goal is how to turn a foe into a friend. Although we can't win all of them, we can still aim for the key people. Who are the key people? The educated. The honest. The pure in heart. The ones with integrity. These people will build a nation. Forget the mockers. Because even if we make them happy, their voices don't really count.

They are the people that the Lord talked about in Luke 7 
31 “To what, then, can I compare the people of this generation? What are they like? 
32 They are like children sitting in the marketplace and calling out to each other:
“‘We played the pipe for you,
    and you did not dance;
we sang a dirge,
    and you did not cry.’
They see the fruit of Jesus' ministry. They see the nation changed, they just won't be happy about it. They are so determined to be unhappy. No matter who their leader is. Because even when John the Baptist (who was the greatest among the religious leaders at that time) didn't eat bread nor drink wine, they called him demon possessed but when Jesus came and ate bread and drank wine he was bullied as a drunkard and sinner. They drag people down because they don't feel comfortable watching another person stand out way brighter than themselves.

John the Baptist had his moment of doubt too. He sent his messengers to ask Jesus (I think he knew exactly who Jesus was, he was only showing Jesus his disappointments) whether he was the true Messiah or should they wait for another man. Jesus didn't ask him to believe in him to answer that question. He simply asked John TO SEE THE FRUIT.

There will be many times in our lives when we fall into a pit of doubt. Asking God if he is really God will not do us any favors. God will not convince you as if he was afraid of losing that respect from you. Whether you believe or not, he is still going to rule anyway, forever and a day. But what he does is ask you: WHAT HAVE I DONE IN YOUR LIFE.. for you? You have a place to rest your head. You have food to eat. You have warm clothes to wrap your body. And the fact that you are still alive today.. If it wasn't for God's mercy..

Katandra Walk - NSW


John was disappointed, waiting for his life about to end at the hands of a wicked king. Jesus responded with a comforting truth:  The blind receive sight, the lame walk, those who have leprosy are cleansed, the deaf hear, the dead are raised, and the good news is proclaimed to the poor.

Isn't that beautiful? These are the reasons why John was doing what he was doing. Both John and Jesus lived for the same cause and he should be grateful for the fruit, even if that cost them their lives. I believe that John eventually died in peace knowing his prayers HAD been answered.

You and I might not be questioning God's skill at being god at the moment, but we could do that to our leaders. We are being skeptical and disappointed because our expectations are not met. We doubt their anointing and authority upon our lives. But this is not a time of proving. This is time for us to look at our surrounding: have the lost been found? people's lives changed? your spiritual man grown? has the good news been proclaimed?

Check your self and check your situation. God is always at work. Whether you acknowledge him or not. A bit of gratitude will bring you forward, and not pin your feet to the ground. You will not be stuck. No one, no president, no boss, no leader is perfect. They have their own accountability before God, but our part is just to be grateful. We are kept under a shield of authority - the right place to be.


God bless you!

Tuesday, December 15, 2015

Udah Mandi Belum?


Sudah lama tidak menulis blog karena transisi dalam hidup (cieee..) dan hari ini kangennya tidak terbantahkan lagi. Menulis itu therapeutic. Bagi yang lebih leluasa menyampaikan uneg-unegnya lewat tulisan seperti saya, menulis itu bagaikan hujan yang meneduhkan sebuah hari yang terik #truestory. 

Saya ingat waktu berumur 6 tahun, untuk meluruskan sebuah konflik dengan teman yang tinggal two houses away from mine, saya menulis sepucuk surat permohonan maaf. The thing is, I never sent that letter to her *tongue emoticon*

Well anyway, pagi ini indah sekali. Tinggal di daerah pedesaan adalah perpindahan yang cukup drastis dari habitat saya yang hingar bingar di kota Denpasar. Tidak banyak kendaraan, tidak banyak manusia, dan toko-toko tutup jam 7 malam. Mobilitas yang rendah serta pemukiman yang jarang menjadi sebuah jeda yang manis menuju musim kami yang baru. Cities are great but we all need a simple life every once in a while, amen? 

Setelah minum teh dan ngobrol bersama mertua dan kakak ipar yang mampir ke rumah dengan kedua balitanya, saya pergi ke laundry room untuk mencuci baju. Satu hal yang saya sukai di Australia adalah betapa banyaknya hal untuk dipelajari. Beeeeegitu banyak! Rasanya seperti menjadi anak ingusan yang baru duduk di bangku sekolah, agak memalukan tapi daripada tersesat, lebih baik bertanya di jalan!

Sambil menunggu pakaian tercuci bersih, saya menatap ke luar jendela karena sudut mata ini menangkap gerakan-gerakan kecil di sana. Seekor wonga pigeon sedang mandi di pemandian burung yang sengaja didirikan oleh papa mertua saya di pekarangan rumahnya. Menyadari kehadiran saya, burung itu diam sejenak lalu melanjutkan mandi setelah dirasanya cukup aman untuk kembali beraktivitas. Tiga atau empat kali celupan (badan) kemudian, ia terbang dan menghilang dari pandangan, yang tak lama kemudian diikuti oleh kehadiran seekor birdcat. Dinamakan birdcat karena burung ini mengeluarkan suara layaknya seekor kucing yang sedang berkelahi. Badannya lebih besar dari burung pertama dengan warna abu-abu dan pendaran hijau di sekitar punggungnya. Eksotik. 

Ia mandi dengan ceria, mengibaskan bulunya sesekali dan mencelupkan kepala dan badannya ke dalam air. Saya tersenyum memikirkan betapa seekor burungpun dianugerahi hikmat oleh Tuhan untuk membersihkan diri, sekalipun ia tak bertuan.


Kebersihan sudah menjadi bagian yang esensial bagi kelestarian seekor burung. Membersihkan dirinya dirasa penting jika ia mau bertahan hidup. Lalu bagaimana dengan kita? Tentu saja sebagian besar dari kita suka mandi setiap hari, tapi bagaimana dengan kebersihan jiwa? Akankah kita tergerak untuk spiritual-grooming ourselves.. everyday?

Setiap kali jalan terasa terjal dan ketakutan merasuki jiwa, saya tahu itu adalah waktu yang krusial untuk lebih banyak membaca Alkitab, lebih sering berdoa, lebih rendah hati untuk mengevauasi diri dan merubah kelakuan. Sayangnya acapkali saya baru ingat itu di kala sulit, lalu acuh ketika kenyamanan masih terasa. Kita tidak akan menunggu badan jasmani kita untuk berbau apek dulu baru mandi, bukan? Kita mandi karena itu adalah bagian dari norma hidup di mana kita dibesarkan. Kita mandi karena dengan demikian tubuh kita akan beroperasi dengan lebih baik dan kinerja kita akan lebih memuaskan. Jadi.. sudah mandi hari ini? :)


Saturday, November 7, 2015

Love Nature Wild Rose Series Oriflame Review

Ternyata kulit yang bermasalah itu nggak hanya disebabkan oleh faktor hormon, makanan yang dikonsumsi, ketidakcocokan dengan kosmetik tertentu, kebersihan yang kurang dijaga, dan lain sebagainya.. tetapi juga oleh kekurangpahaman pemilik kulit dengan jenis kulitnya sendiri lho... Ya, cuma gara-gara satu orang berhasil ngebuktiin keampuhan sebuah produk setelah dia memakainya, belum tentu hasil yang sama juga terjadi pada kita. Alasannya sih sederhana: perbedaan jenis kulit.

Selama jangka waktu yang cukup lama, saya percaya kalau jenis kulit saya itu berminyak. Produk perawatan yang saya pilih tentunya yang membantu mengurangi minyak berlebih, untuk mencegah tumbuhnya jerawat karena debu dan kotoran yang menempel dan tidak tuntas dibersihkan, di antaranya yang mengandung bahan-bahan seperti jeruk nipis, mentimun, lidah buaya, teatree, dan herbal apa saja yang katanya mengatasi jerawat dan komedo. 

Sejauh ini, brand kosmetik yang masih saya percayai karena berbahan dasar alam dan sangat ringan untuk ukuran kulit yang cukup sensitif seperti kulit saya adalah ORIFLAME :)

Yap, saya cinta kepada produk Swedia ini! Sekalipun saking naturalnya, urusan make up jadi tidak terlalu awet di wajah, minimal kulit saya terjaga dari bahan-bahan yang dapat menyebabkan kerusakan permanen. Iihhhh ngeri deh, apalagi hari-hari ini banyak banget kosmetik oplosan beredar dengan mendompleng brand-brand mahal dan terkenal. Duhhhh wajah kan investasi ya.. kalau bisa jangan dijadikan bahan percobaan deh. Mending beralih ke yang pasti-pasti aja dan sudah terjamin kualitasnya dan jauh dari pembajakan abal-abal.

Tapi ya, seperti yang saya tulis di atas, sekalipun pilihan merk sudah betul, nah kalau masih belum paham sama jenis kulit, ya tetep aja resiko salah pakai dan hasilnya jadi ga ngenakin. Pernah saya maksain diri pake krem penghapus noda jerawat karena banyak yang pakai dan merasakan keampuhannya, tapi lupa kalau mereka itu rata-rata memiliki jenis kulit normal dengan pori-pori kecil. Yaudah, di saya langsung kena jerawatan deh :(

Lalu suatu hari saya pergi ke spa dan mbak therapist-nya nyeletuk, "Wajahnya kering ya, Mbak, sering jemuran ke pantai yah?"
Dari situ saya ngeh kalau diagnosa saya selama ini salah. Bukannya kulit berminyak, tapi kering! Nauzubillah bin zali... *facepalm*
Dan suatu ketika saat sedang menginap di hotel, karena kelupaan bawa moisturiser, terpaksa deh saya pakai yang ada: lotion hotel. Kandungan lotion yang sebagian besar air (AQUA) sangat bagus untuk menghidrasi kulit kering. Karena hasilnya bagus, saya jadi ketagihan make, pagi dan malam hari.. xixixi.. Dan juga sekaligus membuktikan kalau jenis kulit saya memang benar kering.

Siipp, kulit sudah dikenali, tinggal cari senjata yang tepat. Kebetulan pas lagi dikirimi katalog terbaru dari Oriflame, dan mata saya langsung terpaku sama seri Love Nature berbahan Wild Rose yang fungsinya untuk nourishing dry skin atau menutrisi kulit kering. Aaahhhh... ngebayanginnya aja, berasa kayak padang pasir dikunjungi embun di pagi hari! Kebetulan paket ini lagi diskon, cuma 130rb dapet cleanser, day cream sama night cream-nya udah komplit! Eh gak hanya itu loh, Oriflame juga ngasih kejutan waktu paket ini nyampe, diiringi oleh si Tender Care imut dalam kemasan baru, satu tema dengan paket Love Nature, berbahan rose. Kotak mungilnya yang pink nge-jreeng bikin gemes deh :D Jadi ga sabar nyobain!

Yuk tengok satu-satu produknya....

1. Love Nature 2-in-1 Cleanser Wild Rose
Yang teristimewa dari rangkaian Love Nature Wild Rose ini adalah wanginya! Manis dan menyegarkan. Membersihkan wajah jadi menyenangkan dan mudah banget dengan 2-in-1 cleanser ini. 
Oleskan di atas kapas secukupnya dan apply pada wajah yang kering. Karena tidak mengandung sabun, cleanser ini ga bikin wajah berkesan kesat. Hanya segar dan lembab :)
2. Love Nature Day Cream Wild Rose
Setelah wajah dibersihkan, perawatan dilanjutkan dengan pemakaian day cream. Ini wajib sebelum memakai alas bedak, soalnya wajah kita perlu dipasangi 'tameng' dari akibat buruk sinar matahari. Dan sekali lagi, begitu membukan tutup cream imut ini, langsung disapa dengan aromanya yang manis dan segar! Tekstur krim ini lembut banget, ngingetin sama yogurt hehehe.. Eh, pernah loh saking manisnya, krim yang jatoh di lantai langsung dikerubutin semut (bener ga bo'ong!)
Begitu diaplikasikan, langsung terserap ke dalam pori-pori kulit. Sekitar lima menitan, udah nempel gitu aja, ga ninggalin minyak atau kesan kesat di wajah. Pas banget buat yang kering-kering cenderung retak, hahaha..
Siipp.. Lanjut ya ke Night Cream-nya :)


3. Love Nature Night Cream Wild Rose
Setelah rutinitas pembersihan wajah di malam hari, dan kalau bisa rajin peeling wajah seminggu sekali (kalau tingkat stress wajah cukup tinggi) habis itu lanjut aplikasikan Love Nature Wild Rose Night Cream. Kandungan AQUA yang cukup tinggi dalam krim ini tidak akan mengundang komedo di wajah kamu yang kering. Begitu bangun di pagi hari, wajah jadi lebih segar dan tidak kusam! Salah satu kelebihan Oriflame yang melegenda adalah kemasannya yang mudah dibawa ke mana-mana. Walaupun mungil, pakai dua colek krim ini aja udah cukup buat seluruh area wajah dan leher kamu loh.. Awet kan!

Oh ya, jangan hanya kulit wajah yang diberi perhatian khusus, kulit di bibir juga donk. Apalagi buat kamu yang tidurnya ditemenin AC, penting untuk menjaga kelembaban bibir. Makanya, bonus kali ini besar manfaatnya :)

4. Tender Care Rose Protecting Balm
Tender care ini terkenal dengan kelebihan manfaatnya yang gak tanggung-tanggung. Kali ini saya khusus memakai keluaran terbaru ini untuk perawatan bibir (kalau yang versi sebelumnya kadang saya pakai di lipatan siku, lutut, dan bekas luka supaya kusamnya pudar). 
Oleskan tender care di malam hari sebelum tidur. Katanya sih, Tender Care juga efektif mengurangi hitam bibir supaya lebih merona. Asal disiplin dan rutin aja makeknya sih..
Tekstur Tender Care mirip produk petroleum jelly, cuman gak sama lengket dan kentalnya. Ga terlalu berminyak. Cukup ringan dipakai secara rutin.
Selain untuk perawatan, Tender Care juga berfungsi sebagai pengganti lip balm sebelum mengaplikasikan lipstik favoritmu. Warna lipstik jadi lebih tahan lama. Ada juga yang menggunakannya sebagai ganti eyeshadow base. Pokoknya si Tender Care ini kecil-kecil cabe rawit deh! Multiguna banget :D
Untuk yang ini saya pilih Oriflame Beauty Moroccan Pink :) Lipstiknya lembut dan kandungan moisturisernya tinggi. 
Nah, sekian dulu review dari saya untuk Love Nature Wild Rose Series. Keep your skin healthy and enjoy today, girls!

Love always,
Sudi
xox 




Monday, November 2, 2015

A Mangrove To Remember


A little truth: on the third day of our honeymoon I went on a solo adventure to visit mangrove forest which was five minutes walk from our bungalow on Nusa Lembongan while my husband took his long nap, exhausted from the wedding marathon and lots of trips. Yesterday I made it up to him by taking him to visit mangrove forest in Bali. 200 meters away to the east from Bali Mall Galleria on Bay Pass Ngurah Rai street.

There was no price list on the ticket booth and we were going to be charged $10 per person to enter (I'd be insane if I agreed on that). Edde is sick of getting ripped off in Bali because he is white (poor thing). So I bargained and paid $5 for both of us although as a local I think I should have paid maximum $1 or so but didn't want to waste time arguing and the sun was setting fast.

Mangrove is a magical place, especially when the light is dimming. The shape of the trees stimulate your imagination and in the quietness of the surrounding you can hear exotic sounds like.. with the sound effect of a cave. Funny bird chirps, crabs fighting and insects buzzing and there was this weird popping noise that we laughed at like something chews a gum and blows it and pops it over and over.

Couples like this place because they can talk here for hours and watch the light fade out slowly. Or simply just to take a walk and climb the stairs up the tower in the middle of the forest. Mangrove is also a famous spot for pre-wedding photo sessions in Bali.
We didn't finish walking the whole jetty because it became to dark to see but we felt refreshed and were ready to move on to dinner so we headed back, followed by a few young boys with a guitar who played us a serenade from behind. They were funny. Some men turned up into the dark to catch shrimp in the water afterwards.
Tips: Before entering, stop for a toilet break first. Bring your water supply and camera. Apply some mosquito repellant and don't rush - take your time and enjoy every step of the jetty.
Also, let's keep our Bali clean, friends. Please throw plastics or junk in its proper place:)


Love,
Sudi

xx


smile emotikon