Tuesday, December 15, 2015

Udah Mandi Belum?


Sudah lama tidak menulis blog karena transisi dalam hidup (cieee..) dan hari ini kangennya tidak terbantahkan lagi. Menulis itu therapeutic. Bagi yang lebih leluasa menyampaikan uneg-unegnya lewat tulisan seperti saya, menulis itu bagaikan hujan yang meneduhkan sebuah hari yang terik #truestory. 

Saya ingat waktu berumur 6 tahun, untuk meluruskan sebuah konflik dengan teman yang tinggal two houses away from mine, saya menulis sepucuk surat permohonan maaf. The thing is, I never sent that letter to her *tongue emoticon*

Well anyway, pagi ini indah sekali. Tinggal di daerah pedesaan adalah perpindahan yang cukup drastis dari habitat saya yang hingar bingar di kota Denpasar. Tidak banyak kendaraan, tidak banyak manusia, dan toko-toko tutup jam 7 malam. Mobilitas yang rendah serta pemukiman yang jarang menjadi sebuah jeda yang manis menuju musim kami yang baru. Cities are great but we all need a simple life every once in a while, amen? 

Setelah minum teh dan ngobrol bersama mertua dan kakak ipar yang mampir ke rumah dengan kedua balitanya, saya pergi ke laundry room untuk mencuci baju. Satu hal yang saya sukai di Australia adalah betapa banyaknya hal untuk dipelajari. Beeeeegitu banyak! Rasanya seperti menjadi anak ingusan yang baru duduk di bangku sekolah, agak memalukan tapi daripada tersesat, lebih baik bertanya di jalan!

Sambil menunggu pakaian tercuci bersih, saya menatap ke luar jendela karena sudut mata ini menangkap gerakan-gerakan kecil di sana. Seekor wonga pigeon sedang mandi di pemandian burung yang sengaja didirikan oleh papa mertua saya di pekarangan rumahnya. Menyadari kehadiran saya, burung itu diam sejenak lalu melanjutkan mandi setelah dirasanya cukup aman untuk kembali beraktivitas. Tiga atau empat kali celupan (badan) kemudian, ia terbang dan menghilang dari pandangan, yang tak lama kemudian diikuti oleh kehadiran seekor birdcat. Dinamakan birdcat karena burung ini mengeluarkan suara layaknya seekor kucing yang sedang berkelahi. Badannya lebih besar dari burung pertama dengan warna abu-abu dan pendaran hijau di sekitar punggungnya. Eksotik. 

Ia mandi dengan ceria, mengibaskan bulunya sesekali dan mencelupkan kepala dan badannya ke dalam air. Saya tersenyum memikirkan betapa seekor burungpun dianugerahi hikmat oleh Tuhan untuk membersihkan diri, sekalipun ia tak bertuan.


Kebersihan sudah menjadi bagian yang esensial bagi kelestarian seekor burung. Membersihkan dirinya dirasa penting jika ia mau bertahan hidup. Lalu bagaimana dengan kita? Tentu saja sebagian besar dari kita suka mandi setiap hari, tapi bagaimana dengan kebersihan jiwa? Akankah kita tergerak untuk spiritual-grooming ourselves.. everyday?

Setiap kali jalan terasa terjal dan ketakutan merasuki jiwa, saya tahu itu adalah waktu yang krusial untuk lebih banyak membaca Alkitab, lebih sering berdoa, lebih rendah hati untuk mengevauasi diri dan merubah kelakuan. Sayangnya acapkali saya baru ingat itu di kala sulit, lalu acuh ketika kenyamanan masih terasa. Kita tidak akan menunggu badan jasmani kita untuk berbau apek dulu baru mandi, bukan? Kita mandi karena itu adalah bagian dari norma hidup di mana kita dibesarkan. Kita mandi karena dengan demikian tubuh kita akan beroperasi dengan lebih baik dan kinerja kita akan lebih memuaskan. Jadi.. sudah mandi hari ini? :)


No comments:

Post a Comment