Monday, November 7, 2016

You are Adding Value to Others

Today I was reminded that what we do isn't just a job - that we are adding value to people's lives; that we are not just going through the motion. Too many times I have davalued the privilege the Lord has given to serve Him even in the smallest ways; not realising that each day I wake up, He has a purpose for me. 

I may not be able to physically go to the unreached like I used to in the past, but even here in our small set-up studio, my voice can still reach to thousands of hungry hearts somewhere in Indonesia that are looking for more in life - just by helping someone communicate their messages, as Aaron to Moses. Oh, so many times I have belittled this opportunity, to the point that somebody had to say to me, "Remember Sudi, that this is also a ministry," so I would take it more seriously!
😁
We are all so much more blessed than we give ourselves credit for. We need to learn to be more appreciative and grateful. You know what, gratitude can turn chaos to order, and confusion to clarity. It can turn a mean into a feast, a house into a home, a stranger into a friend. Gratitude makes sense of our past, brings peace for today, and creates a vision for tomorrow. The things we take for granted are the things others are praying for. We just need to continuously remind ourselves where we'd be without them.
🌻

Thursday, November 3, 2016

Jauh atau Dekat

Atasan suami saya di tempat kerja dikenal tidak mudah bergaul dengan orang lain. Pikirannya yang selalu terorientasi pada bisnis dan pekerjaan membuatnya tidak selalu menomersatukan hubungan. Baginya, menyelesaikan tugas adalah prioritas. Jadi, waktu dia berkomentar soal teman Gereja kami yang datang memperbaiki listrik di kantornya (dia mengucapkan ini setelah teman kami pergi), "Mustahil untuk tidak menyukai orang itu," kami semua tertawa mendengarnya.

Pertama, karena teman kami ini memang tipikal anak Gereja. Rajin ibadah, rajin pelayanan, suka nyelipin kotbah banyak-banyak dalam obrolan ringan hehe, dan tentunya baik hati. Saya kurang tahu sih kalau dia rajin nabung atau enggak hahah.. Anyway, yang kedua, karena teman kami ini memang biasa kami 'bully' kecil-kecilan kalau pas lagi hangout bareng. Jadi, mendengar dia menerima komentar yang sangat membanggakan itu, hati kami langsung bersukacita, saking sukanya, kami sampai terbahak-bahak. Misalnya nih, waktu iring-iringan naik skuter di Bali, dia pasti ada di urutan paling belakang, dan bisa dipastikan dia akan terhilang dari kawanan dan nyasar entah di mana. Lalu kalau ada pengkotbah yang mendadak nggak bisa dateng di last minute, tarik aja dia suruh kotbah, pasti mau. Bahan omongan rohaninya banyak banget, walaupun gak jelas point-nya satu per satu. Dan segudang behavior lainnya yang unik dan membuat geli setiap kali dikenang. Tapi teman saya ini adalah sebuah kesaksian mengenai orang Kristen yang luar biasa. Kalau masih ada sisa kertas di catatan harian rasul Paulus di penjara, saya yakin teman saya ini juga bakal disebutin sebagai salah satu pengikut Kristus yang setia, ciee.. ciee..

Okay, seorang yang nggak percaya Tuhan yang bertemu sama orang Kristen dan komentarnya adalah 'Mustahil untuk tidak menyukai orang ini..' is a big deal right? It's a picture of a person who walks the talk. Saya pernah mendengar istilah bahwa bedanya iman sama kepercayaan adalah: Iman = Kepercayaan yang ada kakinya. Iman adalah sebuah kepercayaan yang dijalani setiap hari. Iman adalah kata kerja. Mengenal seorang Kristen seharusnya membuat orang yang tidak percaya pada Tuhan berkata, "Saya menyukai orang ini."

Ingat tidak sama bacaan di Kisah Para Rasul 2 ayat 46-47?

Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.

Bukankah sebuah hal yang natural bila orang Kristen mudah disukai oleh orang di luar jemaat? Sudahkah ini terjadi di sekitar anda? Saya tidak berbicara mengenai berusaha menyenangkan semua orang. Ini sih tanda insecurity, tetapi sebisa mungkin hidup di dalam perdamaian, if it's up to you.

Roma 12: 17-18:

Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang!
Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang! 

Susah memang, tapi sedapat-dapatnya diusahakanlah..

Ngomong-ngomong itu barus satu poin saja. Ada juga nih, temen saya Kristen. Berkarisma banget. Pintar bicara dan wajahnya enak dilihat. Penampilannya selalu rapi. Imannya dewasa. Dilihat dari jarak mimbar dengan kursi jemaat, dia ini 5 garis di bawah sempurna. Lalu suatu hari kami papasan dengannya di mall. Pikiran saya waktu itu, "Oh ternyata dari jarak segini, dia nggak cakep-cakep amat, hahaha.. Dan agak pemalu." Tapi dia memang luar biasa, sangat menginspirasi.

Pernah nggak lihat foto temen di Instagram atau Facebook, duh harusnya nih mereka jadi artis aja. Tapi begitu duduk sebelahan, kelihatan deh pori-pori kulitnya, komedonya, noda jerawat, atau kantung matanya. Atau sebaliknya nih, mereka sama sekali nggak fotogenik atau jauhjenik atau remangjenik atau apalah, tapi semakin lama menghabiskan waktu sama mereka, eh.. koq lama-lama mereka cantik yah atau ganteng yah. Oh... ternyata yang cakep hatinya hehe! Kata Tuhan, jangan menilai manusia dari penampilan, soalnya Dia paling tahu tuh segala isi hati manusia sampai yang paling tersembunyi sekalipun.

Tapi itu manusia... Mengenal atau memandang mereka lebih dekat, kemungkinannya ada dua: kita semakin menyukai mereka (seperti apa yang terjadi pada atasan suami saya terhadap teman kami) atau kita jadinya kurang suka - mungkin karena mereka tidak menjalani apa yang mereka katakan atau tidak secantik di dunia maya atau alasan konyol lainnya. Tapi bagaimana dengan Tuhan?

Oh, it's impossible not to like Him at all setelah menghabiskan waktu denganNya lewat bacaan Alkitab atau ikut penyembahan. Tidak seperti manusia, adalah mustahil untuk like Him less than we ever did before, kecuali kalau kita menghentikan komunikasi. Burn the bridge, or just throw our relationship into the bin. Menolak untuk mengenal lebih dalam. Menolak duduk lebih dekat. Menolak mendengarkan isi hatiNya. Tuhan bukan pribadi yang setelah dipandang lekat-lekat dengan jarak setengah meter, kelihatan semua cacatnya, nope... In fact, saking sempurnanya, Dia tidak punya cacat dan cela. Tidak berkata atau berbuat salah. Kalau ada yang berpikir sebaliknya, dia pasti jarang piknik atau ngopi-ngopi.

Nah, selamat mengenal Dia lebih dalam lagi! ;)