Wednesday, June 21, 2017
Jalan Yang Sama, Orang Yang Berbeda
Sore itu, kami memastikan kondisi rumah mertuaku. Empat ekor ayam betina mereka perlu dimasukkan kandang dan lain sebagainya. Edde memutuskan bahwa sore itu baik bagi dia untuk mencuci bersih mobil (akhirnya! haha..) dan kesempatan itu aku pakai untuk jogging.
Di sela perjalanan, aku menyadari betapa rindunya aku akan lingkungan sekitar rumah mertuaku, setelah delapan bulan menumpang bersama mereka sebelum kami pindah ke istana mungil kami di dekat pantai. Walaupun cuma ngontrak, setidaknya kami sudah mandiri ;)
Langkah demi langkah kuperhatikan, tidak ada yang berubah dari pemukiman sekitar situ. Namun tetap saja, ada sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang menggelitik sanubariku (cieee..) Sesuatu itu adalah reaksiku terhadap segala hal di sepanjang jalan. Dulu pas masih tinggal di situ, aku terkadang gugup, takut-takut, dan tidak yakin akan apa yang ada di ujung jalan. Sekarang, aku berjalan dengan tegap dan pasti, karena sudah berpengalaman. Diam-diam aku berkhayal bahwa hidup mungkin akan teramat sangat mudah bila yang menjalani situasi kita sekarang ini adalah diri kita yang ada di masa depan. Yang tahu ada berapa tikungan di depan sana sebelum kita berpapasan dengan jembatan di atas danau. Yang tahu bahwa tidak ada yang perlu ditakuti, sebab dua meter lagi, akan ada jalan setapak yang memandu langkah kita. Yang dengan ketenangan mengambil keputusan tanpa bereaksi dengan lebay. Dan alay.
Jogging sore itu mengingatkan aku akan masa lalu. Masa yang kadang aku rindukan, tetapi tidak ingin lagi tinggal di dalamnya. Masa yang selalu bisa kita datangi dengan tujuan mengucap syukur kepada Tuhan, bukan untuk disesali. Masa yang selalu ada di sana bila kita menoleh ke belakang untuk melihat seberapa jauh kita sudah maju. Seberapa dewasa kita sudah bertambah. Seberapa bijak kita sudah menjadi. Seberapa kuat dan seberapa tenang kita di masa kini, oleh karena masa lalu yang pernah melatih kita untuk menjadi siapa diri kita saat ini.
YOU CAN WALK THE SAME PLACE YOU WERE BEFORE BUT AS A DIFFERENT PERSON.
Sedihnya, aku mengenal beberapa orang yang senang tinggal di masa lalu. Mereka tidak pernah terbang melampaui kungkungan cerita kuno mereka. Mereka kembali dan kembali ke jalan setapak yang sama, masih dengan mentalitas yang usang, lagi dan lagi... Dan somehow, mereka seolah tidak merasa bosan. Berpindah dari satu relasi ke relasi selanjutnya, masih dengan cara berpikir hari kemarin, ketika hubungan mereka pecah berantakan di atas lantai. Dan sekalipun Tuhan berkata tidak, mereka mengambil keputusan "ya" berkali-kali. Terus dan terus... heran mengapa seolah mereka berjalan di tempat, sementara kawan-kawan seperjuangannya sudah jauh di depan, menantikan reward-nya masing-masing.
What an irony.
Tuesday, June 20, 2017
Denpasar, Satu Dekade Yang Lalu
Lampu jalan tidak berubah merah, namun tetap saja aku berhenti perlahan. Ada pejalan kaki yang perlu diberikan hak untuk menyeberang di hadapan kami, lautan pengemudi. Di bawah terik mentari, di tengah keramaian, masih saja pikiran ini melayang ke awang-awang. Ada gundah di hati ini. Barangkali sudah saatnya aku mulai mandiri. Bila keputusan hidupku menuntut lepasnya kebergantungan pada keluarga, maka tenanglah hai jiwaku.. Jadilah berani, dan hadapi musik di atas panggung yang kini memanggilmu untuk menari...
Di sela perdebatanku dengan diri sendiri, ada sekelebat bayangan yang menarik perhatianku. Seorang ayah memikul galon air di bahunya. Tangannya yang bebas memegang tangan kecil di sampingnya. Seorang bocah. Berdua mereka menyeberang jalan. Ayah yang kuat dan yakin dengan langkahnya, dan seorang anak yang menggenggam tangannya tanpa memikirkan dunia. Aku tahu ini sebab anak itu, bukannya berjalan dengan gugup, menantang arus lalu lintas yang padat, tapi justru melompat-lompat kecil di depan kami. Ia tidak sekedar melintasi hiruk-pikuk dunia, tetapi juga menjalaninya dengan sukacita. Dan aku tahu darimana sukacita itu mengalir.. Tentu saja, dari kehadiran ayah yang memegang tangannya.
Bukan anak itu yang perlu cemas apakah ini waktu yang tepat untuk menyeberang jalan. Bukan anak itu yang harus memutar otak untuk tahu apakah keadaan baik-baik saja. Bukan juga tugas anak itu untuk menjadi takut dan tidak percaya diri. Semua kesusahan dunia ia percayakan pada ayah di sebelahnya. Tugas anak itu hanya satu: memegang tangan si ayah. Dan oleh sebab itu, ia sanggup melintasi jalan dengan penghiburan.
Ketika mereka berdua sudah sampai di seberang tanpa kekurangan suatu apapun, berangsur-angsur kendaraan melaju kembali. Sambil memacu gas, tak terasa air mata ini menetes. Bapaku baru saja berbisik dengan lembut ke dalam hati ini. "Jadilah seperti anak itu.. I'm walking beside you and I've got your hand." :)
Subscribe to:
Posts (Atom)

