Berkebun itu menyenangkan.
Saya lahir di desa Kedisan, Kintamani. Walaupun besar di kota Denpasar, saya sering bolak-balik ke kampung selama musim liburan sekolah (di luar kegiatan adat) dulu. Salah satu tempat maen favorit saya adalah ladang milik Bapak yang teduh dan tenang. Saya suka lahan hijau dan pepohonan. Melihat tanaman tumbuh, mengeluarkan buah dan nantinya bisa kita nikmati adalah kebahagiaan kecil yang membuat hidup ini berarti hahaha..
Di rumah mertua saya di Central Coast kini juga banyak lahan kosong penuh pepohonan. Karena iseng, salah satu petak tanahnya yang nganggur saya tanami dengan biji bunga. Kebetulan di sini gampang banget beli biji tanaman di swalayan-swalayan dengan harga terjangkau. Setelah tanah kami siangi, bibit disebar, disirami, diberi pagar dan ditunggu kemunculannya, maka petualanganpun dimulai.
Saya perhatikan, dibanding bibit yang kami tanam, gulma justru lebih cepat tumbuh. Sehat dan radipdly grow! Ga perlu usaha deh buat melihara rumput-rumput liar. Kayak udah default gitu sistemnya. Di mana ada tanah sama air, mesti ada gulma. Terkadang down juga, tunas taneman yang diharapkan..ga nongol-nongol. Tapi kami tetep rajin tiap hari ke kebun. Nengokin, nyiramin, nyemangatin itu taneman biar selekas mungkin berakar dan nyembulin daun. Ada mitos kalau taneman diajak bicara atau dikasih kata-kata positif gitu, mereka cenderung tumbuh sehat. Bener atau enggaknya, tanya sama orang Jepang deh! Kenapa orang Jepang? Hehe random aja sih..
Beberapa hari kami mulai cabuti rumput liar, tapi lama-lama kami ragu. Yang ini rumput liar apa tunas taneman sih? Susah ngebedaiinnya kalau masih sama-sama kecil dan imut. Entar salah-salah taneman sendiri yang kecabut! Yaudah kami sepakat ngebiarin mereka sama-sama tumbuh dulu. Ntar pas gede pasti keliatan kan mana lalang mana gandum. Berkebun selain menyenangkan, juga buat pembelajaran.
Pernah gemes ga ngeliat sesuatu yang buruk tapi masih aja wara-wiri di depan kita. Contohnya berita-berita hoax dan tulisan-tulisan provokatif di medsos. Uda keliatan jeleknya. Uda jelas-jelas cuma gulma, tapi masih aja dibiarin idup, ga ada yang nyabut. Atau sebuah organisasi misalnya. Udah kehilangan integritas dan ga sehat buat "taneman" di dekatnya, tapi masih aja ada di kebun tuh. Tuan yang empunya lahan bilang gini: "Eh biarin aja. Biar sama-sama tumbuh. Ntar kalau keduanya udah gede, udah bisa dibedain, baru kita cabut. Soalnya kalau dicabut sekarang, kasihan itu gandum ntar ikut kecabut juga. Rugi bandar donk!"
Di petak tanah yang mungil yang saya garap, ada banyak kehidupan. Di lahan yang sama di mana gulma itu tumbuh, sebuah tunas sedang berjuang untuk berdiri di atas permukaan tanah. Di garden bed yang sama di mana gulma mencari makan, sebuah tunas dari tanaman yang baikpun menerima nutrisinya. Sejelek-jeleknya kebun itu terlihat, ga sedikit tanaman yang baik berkembang di dalamnya.
Yaudah tunggu musim panen aja ya!
Sambil nunggu, yuk tetep rajin berkebun :)

No comments:
Post a Comment