Showing posts with label Gratitude. Show all posts
Showing posts with label Gratitude. Show all posts
Thursday, April 21, 2016
Hidup Kekinian atau Hidup di Masa Kini?
Percakapan dengan seorang teman hari ini mengingatkan saya betapa pentingnya untuk selalu bersukacita. Sukacita tidak datang dengan sendirinya, tetapi diusahakan.
Sambil memperhatikan anak bungsunya bermain di taman, kami duduk di bangku dan bertukar cerita. Tidak ada sesuatu yang istimewa tentang teman saya yang membuat kita menoleh dua kali ketika melihatnya. Penampilannya biasa saja. Tidak mengikuti trend busana terkini, gaya rambut paling hype, bahkan tanpa polesan make up di wajahnya. Senyumnya adalah satu-satunya riasan wajah yang membuatnya menarik, jauh lebih menarik dari wanita "kekinian".
Yang membuat saya terkesan adalah betapa "tidak kekurangan" dia with life in general. Kehidupan ibu rumah tangga yang bagi kebanyakan dari kita adalah rutinitas yang membosankan, tapi tidak buat dia. Dalam setiap komentarnya, selalu ada sesuatu yang membuat dia bahagia, sekalipun itu hal yang sangat sepele. Salah satunya adalah mengikuti perkumpulan seni yang sudah dua kali dia datangi, di mana semua orang bebas mengekspresikan bakatnya dalam bentuk apa saja. Kehidupan religinyapun tidak jauh dari normal. Pergi ibadah paling tidak sekali seminggu. Melihat fluktuasi jumlah jemaat yang tidak stabil, tapi masih memutuskan untuk tinggal. Seolah tidak ada hal yang dia tuntut dari hidup ini. Dari Tuhan..
Ada beberapa teman di lingkungan pergaulan kami yang cukup berduit, sering pergi travelling, bisa membeli mobil dan rumah kapan saja dia mau, tapi masih mengandalkan obat penenang supaya tidak terlalu larut dalam ketidakbahagiaan. Sungguh sebuah paradoks. Di tengah obrolan kami, saya merasa dipukul telak. Ada begitu banyak hal kecil yang belum sempat saya syukuri dalam hidup ini. Yang berlalu setiap hari dan lewat begitu saja bagaikan butiran debu (kalau kata RUMOR) di tengah tiupan angin, sementara teman saya memuaskan diri dengan secukupnya yang dia miliki tanpa merasa harus mengikuti patron "kekinian".
Keluarga. Teman. Ibadah. Hobby. Dia hidup di masa kini, bukan di masa lampau sehingga harus menyesal, ataupun di masa depan yang belum tentu ke mana juntrungannya sehingga dia perlu khawatir. Tanpa memaksakan kehendak pada orang lain ataupun Tuhannya. Tanpa menuntut banyak, hanya setia pada apa yang sudah dipercayakan kepadanya untuk saat ini.
Sebuah seni menjalani hidup yang perlu kita tempuh di sekolah kehidupan sepanjang usia kita.
xx
Subscribe to:
Posts (Atom)
