Lampu jalan tidak berubah merah, namun tetap saja aku berhenti perlahan. Ada pejalan kaki yang perlu diberikan hak untuk menyeberang di hadapan kami, lautan pengemudi. Di bawah terik mentari, di tengah keramaian, masih saja pikiran ini melayang ke awang-awang. Ada gundah di hati ini. Barangkali sudah saatnya aku mulai mandiri. Bila keputusan hidupku menuntut lepasnya kebergantungan pada keluarga, maka tenanglah hai jiwaku.. Jadilah berani, dan hadapi musik di atas panggung yang kini memanggilmu untuk menari...
Di sela perdebatanku dengan diri sendiri, ada sekelebat bayangan yang menarik perhatianku. Seorang ayah memikul galon air di bahunya. Tangannya yang bebas memegang tangan kecil di sampingnya. Seorang bocah. Berdua mereka menyeberang jalan. Ayah yang kuat dan yakin dengan langkahnya, dan seorang anak yang menggenggam tangannya tanpa memikirkan dunia. Aku tahu ini sebab anak itu, bukannya berjalan dengan gugup, menantang arus lalu lintas yang padat, tapi justru melompat-lompat kecil di depan kami. Ia tidak sekedar melintasi hiruk-pikuk dunia, tetapi juga menjalaninya dengan sukacita. Dan aku tahu darimana sukacita itu mengalir.. Tentu saja, dari kehadiran ayah yang memegang tangannya.
Bukan anak itu yang perlu cemas apakah ini waktu yang tepat untuk menyeberang jalan. Bukan anak itu yang harus memutar otak untuk tahu apakah keadaan baik-baik saja. Bukan juga tugas anak itu untuk menjadi takut dan tidak percaya diri. Semua kesusahan dunia ia percayakan pada ayah di sebelahnya. Tugas anak itu hanya satu: memegang tangan si ayah. Dan oleh sebab itu, ia sanggup melintasi jalan dengan penghiburan.
Ketika mereka berdua sudah sampai di seberang tanpa kekurangan suatu apapun, berangsur-angsur kendaraan melaju kembali. Sambil memacu gas, tak terasa air mata ini menetes. Bapaku baru saja berbisik dengan lembut ke dalam hati ini. "Jadilah seperti anak itu.. I'm walking beside you and I've got your hand." :)





